Total Tayangan Halaman

Sabtu, 19 Desember 2009

Pernikahan Zaman Jahiliyah dalam hubungannya dengan kesucian nasab Rasululloh

Allah Yang Maha Tinggi berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ (التوبة: 128)
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian sendiri.”
Kata anfusikum dapat dibaca dengan dhommah huruf faa’-nya أَنْفُسِكُمْ yakni anfusikum yang arinya ‘dari golongan kalian’. Maknanya menurut para ahli tafsir: tidaklah satu pun dari kabilah yang ada dari kabilah2 arab kecuali ada hubungan nasab dengan Rasululloh. Tentang makna kata anfusikum adapula riwayat Al-Imam Ali – semoga Allah memuliakan wajahnya – bahwa Rasululloh – semoga salawat dan salam tetap atas beliau – mengomentari kata-kata dalam ayat ini dengan sabda beliau: “termasuk golongan kalian, yakni dari nasaab / hubungan darah, keturunan, dan hubungan pernikahan, dan tiada satu pun dari ayah juga nenek moyangku hingga nabi Adam yang tercampur perzinahan (sifaach) semuanya lahir melalui proses pernikahan (yakni secara syar’iy).” Dan dapat pula dibaca dengan fatcah أَنْفَسِكُمْ (anfasikum) yang artinya: ‘dari yang terbaik di antara kalian’, ini lebih pantas untuk memuji Rasululloh.
Perlu diketahui bahwa nikah pada zaman jahiliyah itu ada 4 macam:
1. pernikahan seperti yang kita kenal sekarang.
2. seorang berkata kepada isterinya ketika sang isteri suci dari haidhnya: “Pergilah engkau kepada si fulan (biasanya adalah seorang yang tampan / bagus rupanya, dsb), dan kumpullah engkau dengannya (yakni jima’)”. Setelah itu suami yang pertama tadi tidak akan menyentuhnya sama sekali sampai jelas bahwa si isteri itu hamil dari laki-laki tersebut. Jika telah nyata hamil maka si laki-laki yang terakhir ini dapat memiliki isteri itu, jika ia mau. Ia melakukan hal itu hanya karea berharap anak yang bagus. Nikah semacam ini disebut dengan nikah Istibdhoo’ . 
3. berkumpul beberapa orang antara 1 hingga 9 orang lalu mereka mengumpuli seorang wanita yang sama. Jika wanita itu hamil lalu melahirkan maka dipanggillah semua laki-laki yang pernah mengumpulinya itu, lalu wanita itu meminta pertanggung jawaban dari salah seorang laki-laki di antara mereka yang paling dia sukai, dan ank itu menjadi anaknya. 
4. adalah yang paling hina yaitu kawinnya para pelacur, mereka memiliki bendera tersendiri di pintu rumahnya, maka datanglah setiap orang yang mau lalu ia mengumpuli wanita itu, jika ia hamil dan melahirkan maka ia pun memanggil seorang ahli qiyaafah (penelusur jejak) maka ahli itu memperhatikan anak yang lahir itu dan menasabkan anak itu kepada yang paling mirip diantara para laki-laki yang pernah mengumpulinya.
Setelah datang islam maka Rasul SAW mengahpus semua jenis pernikahan jahiliyah itu kecuali pernikahan syar’iy yg kita kenal sekarang. Riwayat ini diriwayatkan oleh Al-Imam AlBukhoriy dan Al-Imam Muslim, serta Al-Imam Abu Dawud, dari riwayat Abdulloh bin Zuber dari Siti Aisyah binti Abubakar Assiddiq, semoga Allah meridhoi mereka semua.
Sedangkan daliil tentang kesucian nasab Rasul dari pernikahan jahiliyah yang tidak syar’iy diatas, salah satunya adalah keterangan beliau sendiri, pada riwayat yang tersebut diatas. Juga ayat: وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِيْنَ (الشعراء: 219) artinya: dan perpindahanmu berada dalam (tulang sulbi dan rahim) orang-orang yang ahli sujud (Q.S Asy-Syu’aroo’: 219) kurang lebih itulah makna ayat ini menurut Ibnu Abbas.
Bahkan diriwayatkan dalam sahih Al-Bukhoriy dari Abu Huroyroh, ia berkata: “Rasululloh SAW bersabda: “Aku diutus oleh Allah (ke dunia ini) dari kurun / masa-masa terbaik bani Adam, dari suatu masa ke masa berikutnya hingga masa di aman aku diwujudkan pada masa itu (di alam dunia).” Dan diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Isa Atturmudziy, dari Watsilah bin Al-Asqo’, ia berkata: “Rasuulloh SAW bersabda: “Allah telah memilih Isma’il diantara anak-anak Ibrohim, lalu Allah pilih Bani Kinanah dari anak-anak / keturunan Isma’il, lalu Allah pilih Quraisy (nama aslinya: Fihr) dari antara anak-anak Kinanah, lalu Allah pilih Bani Hasyim diantara keturunan Quraisy, lalu Allah pilih aku dari antara Bani Hasyim.” Dalam riwayat lain ada tambahan: “maka aku adalah pilihan dari pilihan dari pilihan.”
Diriwayatkan oleh Al-Imam Ath-Thobariy dalam kitab tarikhnya dari Abdulloh bin Umar - semoga Allah meridhoi keduanya – bahwasanya Rasul SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah memilih Bani Adam diantara sekian banyak makhluk-Nya, lalu Allah memilih bangsa Arab dari antara Bani Adam, lalu Allah memilih Quraisy diantara bangsa Arab, lalu Allah memilih bani Hasyim diantara Quraisy, lalu Allah memilih aku diantara Bani Hasyim. Maka Aku adalah pilihan diantara pilihan. Ketahuilah barangsiapa yang mencintai bangsa Arab, mak aku cintai mereka karena kecintaan mereka itu. Dan barangsiapa yang membenci bangsa Arab mak aku membenci mereka karena kebencian mereka itu.”
اللهم صل على سيدنا محمد وآل سيدنا محمد.
Disarikan dari kitab Bahjatul Machaafil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar