Total Tayangan Halaman

Senin, 21 Desember 2009

antara anak berbakti dan anak yang durhaka

Sungguh telah tersebut dalam kitab-kitab tafsir: bahwasanya dahulu ada seorang salih dari Bani Israil, dan ia mempunyai seorang anak yang masih kecil lalu dan ia memiliki seekor sapi maka ia pun membawa sapinya tersebut ke suatu semak-semak dan berkata: “Ya Allah sesungguhnya aku menitipkan sapi ini untuk anakku ketika ia nanti telah dewasa. Lalu matilah laki-laki salih ini, dan jadilah sapi itu tetap tinggal di semak-semak tersebut hingga menjadi besar dan sapi itu akan lari bila melihat orang / manusia. Ketika anak tersebut dewasa dan ia adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Dia membagi malamnya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk salat, sepertiga untuk tidur dan sepertiga duduk di dekat ibunya. Setelah datang pagi, ia pergi mencari kayu baker, lalu setelah itu ia pergi ke pasar untuk menjualnya. Lalu sepertiga dari hasilnya di sedekahkan, sepertiga lagi untuk makan, sepertiga lagi untuk ibunya.”
Suatu hari ibunya berkata kepadanya: “Wahai anakku, sesungguhnya ayahmu mewariskan seekor sapi yang ia titipkan kepada Allah di semak-semak yang terletak di tempat ini, maka pergilah engkau ke sana dan berdoalah kepada Allah Tuhan Ibrahim, Isma’il dan Ishaq agar Dia mengembalikannya kepadamu. Tandanya adalah jika engkau melihatnya maka seolah-olah keluar cahaya matahari dari kulitnya. Dan dia disebut ‘Al-Mudzahhabah’ (yang berwarna keemasan) karena amat indah warnanya, dan kekuning-kuningan. Maka pergilah anak / pemuda itu ke semak-semak tersebut dan ia mendapati sapinya itu sedang merumput di sana. Lalu pemuda itu berkata kepada sapi itu: “Aku memintamu menghadap dengan nama Allah Tuhan Ibrohim, Isma’il dan Ishaq.” Lalu sapi itu pun menghadap dan pergi menuju kepadanya dan pemuda itu pun menuntunnya dan membawanya ke rumahnya. Maka berbicaralah sapi itu dengan izin Allah: “Wahai pemuda yang taat kepada ibunya naikilah aku sebab itu akan meringankanmu.” Pemuda itu menjawab: “Sesungguhnya ibuku tidak menyuruhku melakukannya” sapi itu pun berkata: “Seandainya engkau menunggangiku, maka engkau tak akan mampu menguasaiku / menunggangiku selamanya , berjalanlah engkau, karena seandainya engkau memerintahkan gunung sekalipun agar ia tercerabut dari dasar / akarnya maka gunung itu akan tercabut dari dasarnya, karena sangat berbaktinya engkau kepada ibumu.” Maka pemuda itu membawa sapi itu kepada ibunya. Ibunya berkata: “Sesungguhnya engkau ini seorang yang fakir, tak memiliki harta, engkau akan terasa berat bagimu mencari kayu baker di siang hari dan bangun di malam hari, maka pergilah dan juallah sapi ini.” Anaknya bertanya: “Berapa harus aku jual sapi ini?” Ibunya menjawab: “Tiga dinar, namun janganlah engkau jula kecuali dengan saran / persetujuanku.”
Adalah harga sapi itu 3 dinar. Pergilah pemuda ini ke pasar, lalu Allah mengutus malaikat (dalam wujud seorang laki-laki) kepada pemuda itu untuk menguji akhlaknya, sejauh manakah baktinya kepada ibunya, dan Allah Maha Tahu. Maka malaikat itu bertanya kepadanya: “Berapa harga sapi ini?” Pemuda itu menjawab: “Tiga dinar dan aku mensyaratkan kepadamu ridho / persetujuan ibuku.” Malaikat itu berkata: “(Aku akan membelinya) 6 dinar namun kau tak usah meminta persetujuan ibumu.” Pemuda itu berkata: “Seandainya engkau beli saharga emas yang seberat sapi ini maka aku tak akan menjualnya kecuali dengan ridho ibuku.” Lalu pemuda itupun pulang kepada ibunya dan memberitahukan ibunya atas harga tersebut. Lalu ibunya berkata: “Juallah dengan harga 6 dinar, namun kau tak boleh menjualnya tanpa persetujuan dariku.” Pemuda itu kembali ke pasar dan menemui malaikat itu, dan malaikat itu berkata: “Bagaiamana, apakah engkau telah meminta persetujuan ibumu?” Pemuda itu berkata: “Ya, sesungguhnya ia menyuruhky agar menjualnya dengan harga tak kurang dari 6 dinar, sesuai dengan persetujuannya.” Malaikat itu berkata: “Aku akan memberimu 12 dinar namun janganlah engkau meminta persetujuan ibumu.” Pemuda tadi tak mau, dan ia pulang kepada ibunya untuk memberitahu hal itu.
Ibunya berkata: “Sesungguhnya yang datang epadamu itu adalah seorang malaikat dalam wujud manusia untuk menngujimu. Maka jika engkau bertemu lagi dengan orang itu, katakanlah kepadanya: “Engkau ini menyuruhku untuk menjual sapi ini ataukah tidak?” Kemudian si pemuda itu pun melakukan apa yang disuruh oleh ibunya tadi. Malaikat itu pun akhirnya berkata: “Pergilah engkau kepada ibumu dan katakanlah: “Tahanlah dulu sapi ini (jangan dijual), sebab Musa bin Imron akan membelinya darimu untuk seorang yang terbunuh dari Bani Isroil. Maka janganlah engkau menjualnya kecuali dengan harga emas seberat sapi ini.” Lalu ia pun tidak menjual sapi itu, hingga (ada kejadian pembunuhan dan) Allah menentukan atas Bani Isroil untuk menyembelih seekor sapi, hingga mereka terus meminta agar Musa mensifati sapi itu dengan terperinci, sehingga Allah sifati sapi itu (melalui lisan Musa) persis seperti sapi milik si pemuda taat itu, karena ketaatannya kepada ibunya. Sebagai karunia dari Allah dan rahmat-Nya. Kemudian mereka membeli sapi itu dengan harga emas seberat sapi tersebut, lalu mereka menyembelihnya dan memukulkan sebagian tubuhnya ke tubuh si terbunuh, maka orang itu pun hidup kembali seketika dan bangun dengan izin Allah sedang lehernya masih bercucuran darah, dan si mayit itu berkata: “Yang membunuhku adalah si Fulan.” Yakni sepupunya sendiri. Kemudian mayit itu terjatuh kembali dan mati.

Telah banyak hadits tentang larangan durhaka kepada kedua orang tua, di antaranya:

ما روى البخاري عن عبد الله بن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: {مِنَ الْكَبَائِرِ اْلإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّاسِ وَاْليَمِيْنُ الِغَمُوْسُ}
Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dari Abdulloh bin Umar, ia berkata: “Rasululloh – semoga Allah tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau – bersabda: “Termasuk dosa besar adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada dua orang tua, membunuh manusia, dan sumpah palsu.”

وفي الصحيحين عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: {مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ} قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَهَلْ يَشْتُمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قال: {نَعَمْ يَسُبُّ الرَجُلَ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ}.
Dalam sahih Al-Bukhoriy dan Muslim diriwayatkan dari Abdulloh bin ‘Amr, ia berkata: “Rasululloh – semoga Allah tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau – bersabda: “Termasuk dosa besar adalah jika seseorang mencela kedua orang tuanya sendiri.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasululloh, apakah mungkin seseorang mencela kedua orang tuanya sendiri.” Rasululloh menjawab: “Ya. Seseorang mencela orang lain maka orang yang dicelanya itu menghina ayahnya dan menghina ibunya.”

وروى البيهقي عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: {مَنْ أَصْبَحَ مُطِيْعًا للهِ فِي وَالِدَيْهِ أَصْبَحَ لَهُ بَابَانِ مَفْتُوْحَانِ مِنَ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ وَاحِدًا فَوَاحِدًا. وَمَنْ أَصْبَحَ عَاصِيًا للهِ فِي وَالِدَيْهِ أَصْبَحَ لَهُ بَابَانِ مَفْتُوْحَانِ مِنَ النَّارِ وَإِنْ كاَنَ وَاحِدًا فَوَاحِدًا. قاَلَ رَجُلٌ: وَإِنْ ظَلَمَاهُ؟ قَالَ: وَإِنْ ظَلَمَاهُ وَإِنْ ظَلَمَاهُ}
Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bayhaqiy dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasululloh – semoga Allah tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau – bersabda: “Barangsiapa pagi hari taat kepada Allah dengan cara berbakti kepada kedua orang tuanya, maka akan dibukakan untuknya dua pintu surga, jika taat kepada salah satunya maka dibukakan satu pintu. Dan barangsiapa yang pada pagi hari bermaksiat kepada Allah dengan cara durhaka kepada kedua orang tuanya, maka dibukakan baginya dua pintu neraka, jika durhaka kepada salah satunya maka dibukakan satu pintu.” Kemudian seseorang bertanya kepada beliau: “Walaupun kedua orang tuanya menzaliminya?” Rasululloh menjawab: “Walaupun keduanya menzaliminya. Walaupun kedunya menzaliminya. (beliau mengulanginya dua kali).”

وروى البيهقي عن أبي بكرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: {كُلُّ الذُّنُوْبِ يَغْفِرُ اللهُ مِنْهَا مَا شَاءَ إِلاَّ عُقُوْقَ الْوَالِدَيْنِ فَإِنَّهُ يُعَجِّلُ لِصَاحِبِهِ فِي الْحَيَاةِ قَبْلَ الْمَمَاتِ}
Al-Bayhaqiy meriwayatkan dari Abu Bakroh, ia berkata: “Rasululloh – semoga Allah tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau – bersabda: “Semua dosa Allah akan mengampuninya menurut kehendaknya kecuali dosa durhaka kepada kedua orang tua, maka sesungguhnya akan dipercepat balasannya bagi pelakunya di kehidupan dunia ini sebelum (ia menerima siksanya) di akhirat.”

Akibat anak durhaka

Al-Ishbahaniy dan yang lainnya meriwayatkan dan begitu juga Abul ‘Abbas Al-Ashomm pernah membawakan riwayat ini di hadapan para pengahafal hadits dan mereka semua tidak mengingkarinya: bahwasanya Al-‘Awamm bin Chawsyab berkata: “Suatu kali aku singgah di suatu kampung dan di dekat kampung itu ada pekuburan. Ketika setelah waktu asar terbelaahlah salah satu dari kubur itu lalu keluarlah dari kubur itu seorang laki-laki, kepalanya kepala keledai dan badannya badan manusia, lalu orang itu bersuara / berteriak tiga kali seperti suara keledai, kemudian kubur itu tertutup kembali. (Dan didekat tempat tinggal itu) aku melihat seorang wanita tua yang sedang menenun kain wol, maka berkatalah seorang wanita kepadaku: “Apakah engkau tahu siapa wanita tua itu? Aku bertanya: “Ada apa dengan wanita tua itu?”, wanita itu berkata: “Dia adalah ibu dari orang yang kau lihat di kubur tadi.” Aku bertanya: “Bagaimanakah kejadiannya?” Wanita itu berkata: “Orang laki-laki yang kau lihat tadi, ketika hidupnya ia selalu minum khomr (minuman keras). Ketika sore hari ibunya berkata kepada anaknya itu (yakn lelaki tersebut): “Wahai anakku, bertaqwalah / takutlah kepada Allah! Hingga kapan engkau meminum khomr itu?” maka anak laki-laki itu pun menjawab denganberkata: “Engkau – wahai ibu – berteriak-teriak seperti teriakan keledai.” Wanita itu melanjutkan ceritanya: “Maka matilah anaknya itu setelah asar, dan setiap setelah asar kuburnya itu terbelah setiap harinya dan ia pun berterial 3 kali teriakan, seperti teriakan keledai kemudian kuburnya tertutup kembali.” kita berlindung kepada Allah dari murkaNya.

Oleh karena itu harus menjaga diri dari sikap durhaka kepada kedua orang tua, dan bersungguh-sungguh dalam berbakti kepada keduanya, walaupun kedua orang tua itu musyrik / kafir. Sebagaimana Allah Yang Maha Tinggi berfirman: “Dan jika keduanya (yakni dua orang tua) menyuruhmu untuk menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang mana engkau tak memiliki pengetahuan tentang itu, maka janganlah engkau metaati keduanya dan perlakukanlah keduanya di dunia dengan baik.”

وفي الصحيحين عن أسماء بنت أبي بكر قالت: قدمت عليّ أمي وهي مشركة في عهد قريش فقلت: يا رسول الله إن أمي قدمت علي وهي راغبة أفأصلها؟ قال: نعم صليها
Dalam kitab sahih Al-Bukhoriy dan Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Asma’ binti Abubakar, ia berkata: “Ibuku datang kepadaku sedangkan ketika itu ia masih musyrik (belum masuk Islam), pada masa kafi Quraisy , maka aku bertanya: “Ya Rasululloh sesungguhnya ibuku datang kepadaku sedangkan dia senang (datang kepadaku), apakah aku harus menyambung hubunganku dengannya (sedang dia musyrik / kafir)?” Beliau menjawab: “Ya, sambunglah (hubunganmu dengan) dia.”
.
Kemudian jika kedua orang tua telah meninggal dunia maka cara berbaktinya adalah dengan mendoakan keduanya dan memohonkan ampunan bagi mereka, dan semacamnya.
. روى أبو داود عن ابن أسيد الساعدي قال: بينما نحن عند رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ جاءه رجل من بني سلمة فقال: يا رسول الله هل بقي من بر أبوَيَّ شيء أبرهما بعد موتهما. قال: نعم الصلاة عليهما والاستغفار لهما وإنفاذ عهدهما من بعدهما وصلة الرحم التي لاتوصل إلا بهما وإكرام صديقهما
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ibnu Usaid As-Saa’idiy, ia berkata: “Ketika pada suatu kali kami berada bersama Rasululloh – semoga Allah tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau – tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dari Bani Salamah, orang itu bertanya: “Ya Rasululloh, apakah masih tersisa untukku suatu amalan yang dapat aku kerjakan sebagai baktiku kepada kedua orang tuaku setelah mereka berdua meninggal dunia.” Beliau menjaawa: “Ya, yaitu mendoakan keduanya, memintakan ampunan bagi keduanya, melaksanakan janji keduanya setelah wafat keduanya, dan menyambung silaturrahim (hubungan rahim) yang tak dapat terhubung kecuali melalui keduanya, serta memuliakan teman keduanya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar