Total Tayangan Halaman

Selasa, 31 Desember 2013

sejarah Rasululloh SAW berdasar riwayat-riwayat yang sahih 4

Kabar Gembira Dari Yahudi, Para Ulama Mereka dan Para Rahib Mereka Tentang Beliau – semoga Allah Yang Maha Luhur tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – 

[10]. Dan diriwayatkan dari Salamah bin Salaamah bin Waqsy, semoga Allah Yang Maha Luhur meridhoinya, – ia termasuk peserta perang Badr – ia berkata: “Dahulu kami memiliki seorang tetangga Yahudi di antara Bani Abdil Asyhal. Lalu ia keluar kepada kami suatu hari dari rumahnya sesaat sebelum pengutusan Nabi – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – maka ia berhenti di tempat berkumpul kelompok bani Abdil Asyhal.” Salamah berkata: “Dan aku ketika itu adalah yang termuda usianya diantara yang ada disana, aku sedang berbaring di atas sebuah selimut di dekat beranda rumah keluargaku, lalu si Yahudi itu menyebutkan tentang kebangkitan, kiamat, hisab, mizaan (neraca timbangan amal), surga, dan neraka. Maka ia mengucapkan hal itu kepada kaum yang ahli syirik, penyembah berhala, yang mana mereka tidak meyakini bahwa kebangkitan akan terjadi setelah kematian. Mereka semua (yang ada di sana) berkata kepadanya: “Kasihan kamu wahai Fulan, apakah kamu meyakini hal ini, bahwasanya manusia akan dibangkitkan setelah kematian mereka ke sebuah alam yang di sana ada surga dan neraka, mereka akan dibalas di sana sesuai dengan amal mereka.” Ia berkata: “Ya. Demi Dzat Yang (nama-Nya) digunakan untuk sumpah, sungguh mereka penduduk neraka sangatlah ingin seandainya digantikan siksanya itu dengan tungku yang paling besar di dunia yang membakar mereka dan mereka masuk ke dalamnya lalu di tutup, dan dengan itu mereka berharap selamat besok dari siksa neraka.” Mereka berkata: “Celaka kamu. Apa tanda benarnya hal itu?” Ia berkata: “Seorang nabi akan diutus dari negeri itu.” ia memberi isyarat ke arah Makkah dan Yaman. Mereka berkata: “Kapan kau akan melihatnya?” Lalu ia melihat kepadaku sedang aku adalah yang paling muda usianya di antara mereka semua, jika umur anak ini sudah mencapai dewasa ia akan menemui nabi itu.” Salamah berkata: “Demi Allah tidak lewat hari-hari dan malam-malam hingga Allah mengutus Nabi Muhammad – semoga Allah Yang Maha Luhur tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – sedang beliau hidup di antara hadapan kami dan kami pun beriman kepada beliau sedangkan ia (si Yahudi itu) mengingkari beliau karena sombong dan iri hati (hasud).” Ia (Salamah) berkata: “Kami berkata kepadanya: “Kasihan engkau wahai Fulan, bukankah engkau yang telah mengatakan apa yang kau katakan kepada kami.” Ia (si Yahudi) berkata: “Ya. Namun bukan itu orangnya.” Diriwayatkan oleh Ibn Ishaq pada Tahdziib karya Ibn Hisyam juga di kitab Ar-Rowdh, dan dalam jalur periwayatan yang sama juga diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Chaakim, dan Al-Bukhooriy dalam kitab Taarikhnya, juga oleh Al-Bayhaqiy dalam Dalaa-il-nya, dan disahihkan oleh Al-Chaakim menurut syarat Muslim dan disetujui pensahihan itu oleh Adz-Dzahabiy, dan Ibnu Ishaaq menjelaskan dengan kata-kata yang tegas (yakni ‘diberitakan kepada kami dari fulan’). Lihat pula Majma’uz Zawaa-id. ‘Waqsy’ (pada hadits di atas) dengan mem-fatchah-kan wawu, men-sukuun-kan qoof dan setelahnya adalah huruf syiin adalah seorang dari kabilah Aus. Adapun Bani Abdul Asyhal adalah salah satu nama kabilah Anshoor, dan Asyhal adalah nama sebiah berhala yang ada pada mereka pada zaman jahiliah. Achdatsu semakna dengan kata ashghoru (yang berarti yang paling muda atau termuda). ‘Beranda’ (teras) adalah yang memanjang dari pada salah satu sisi rumah.

[11]. Dan diriwayatkan dari Abdulloh bin Sallaam – semoga Allah Yang Maha Luhur meridhoinya – ia berkata: “Sesungguhnya Allah ketika hendak memberi petunjuk kepada Zaid bin Su’nah, Zaid bin Su’nah berkata: “Sesungguhnya tidak tersisa dari tanda-tanda kenabian sesuatu pun kecuali aku telah mengetahuinya pada diri Muhammad – semoga Allah Yang Maha Luhur tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – ketika aku melihatnya, kecuali dua hal yang aku belum mencobanya pada dirinya, kesantunannya tidak akan didahului oleh sifat bodoh, dan kerasnya sifat bodoh kepada dirinya tidak menambah kecuali kesantunan. Lalu aku pun berlembut kepadanya suapaya aku dapat bergaul dengannya, sehingga aku mengetahui sifat kesantunannya dan kebodohannya. Lalu aku pun membeli darinya kurma (dengan memesan) hingga batas waktu yang telah diketahui, dan aku telah memberikan kepadanya harganya. Lalu dua atau tiga hari sebelum waktu yang ditentukan itu aku mendatanginya dan aku menarik baju dan ridaa’ (serban yang diselempangkan dibahu)-nya, dan aku memandang kepadanya dengan wajah yang kasar, kemudian aku berkata: “Mengapakah engkau tidak menunaikan hakku Ya Muhammad? Sungguh – demi Allah – kalian anak-anak Abdul Muththolib suka menunda-nunda membayar hutang, dan sungguh aku sudah mempunyai pengalaman bergaul dengan kalian.” Umar berkata: “Wahai musuh Allah, apakah engka berani mengatakan kepada Rasululloh apa yang aku dengar barusan, Demi Allah seandainya tidak karena apa yang aku takutkan kehilangannya aku akan menebas kepalamu dengan pedangku.” Sedangkan Rasululloh – semoga Allah senantiasa melimpahkan salawat dan salam atas beliau – memandang kepada umar dengan tenang dan sambil tersenyum, kemudian berkata: @“Saya dan dia lebih membutuhkan kepada perlakuan yang bukan seperti ini darimu, wahai Umar. Yaitu engkau suruh aku melunasi dengan baik dan suruhlah ia menagih dengan baik. Pergilah engkau wahai Umar tunaikanlah haknya dan tambahkanlah baginya 20 gantang lagi sebagai ganti engkau telah mengancamnya tadi.”# Maka Umar pun melakukan itu. lalu aku berkata: “Wahai Umar, tidak tersisa dari tanda-tanda kenabian sesuatu pun kecuali aku telah mengetahuinya pada diri Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Luhur tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – ketika aku melihatnya, kecuali dua hal yang aku belum mencobanya pada dirinya, (yaitu): kesantunannya tidak akan didahului (atau dikalahkan) oleh sifat jahil (bodoh), dan kerasnya sifat bodoh kepada dirinya tidak menambah kecuali kesantunan. Dan sekarang aku telah mengujinya. Maka aku persaksikan dirimu bahwa aku telah ridho Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku.” [H.R Ath-Thobroniy, Ibnu Chibbaan, Al-Chaakim, dan Abu Nu’aim] Diriwayatkan oleh Ibn Hibban bersama dengan riwayat-riwayat lain (atau di beberapa tempat dalam kitabnya), Abu Nu’aim dalam kitab Dalaa-il-nya, dan di sahihkan oleh Al-Chaakim, adapaun perawinya yang bernama Al-Waliid bin Muslim telah jelas menjelaskan dengan kalimat tegas bahwa ia mendapatkan (mendengar) hadits itu, seangkan Muhammad bin Al-Mutawakkil berselisih para ulama tentang kesahihan haditsnya, namun hadits ini memiliki pendukung menurut Inu Sa’d dan yang lainnya. Dan hadits ini juga diketengahkan oleh An-Nuur dalam Al-Majma’ dengan riwayat Ath-Thobroniy, dan ia berkata: “Para perawinya dapat dipercaya.” Maka hadits ini hasan. 

[12]. Dari (Abdulloh) bin Abbas – semoga Allah meridhoi mereka berdua – ia berkata: “Salman Al-Faarisiy – semoga Allah Yang Maha Tinggi meridhoinya – menceritakan kepadaku, ia berkata: “Dahulu aku termasuk orang Persia dan ayahku adalah seorang kepala di negerinya, ia sangat mencintaiku sehingga ia menahanku di rumahnya seperti ditahannya seorang gadis belia, dan aku sangat tekun dengan agama majusi (penyembah api) sehingga aku menyembah api yang ia nyalakan, demikianlah aku tidak mengetahui dunia luar kecuali apa yang aku geluti. Ayahku memiliki kebun kecil di sana ada beberapa pekerja, maka suatu kali ia memanggilku dan berkata kepadaku: “Wahai anakku, aku telah disibukkan dengan beberapa hal sehingga aku tidak sempat mengurus ladangku itu, sedangkan aku harus memperbaiki keadaannya maka pergilah engkau ke sana dan perintahkanlah para pekerja untuk melakukan ini dan itu, maka janganlah engkau berlama-lama untuk kembali kepadaku, sebab jika engkau berlama-lama dariku berarti engkau telah menyibukkan aku dari segala sesuatu. Aku pun keluar menuju ladangnya dan aku melewati gereja Nasrani, lalu aku dengar suara mereka di dalam gereja itu, maka akupun kagum ketika melihat mereka, dan demi Allah aku terus berdiam di situ hingga terbenam matahari. Lalu ayahku mengutus seseorang untuk mencariku di segala arah, hingga aku pun datang kepadanya ketika petang dan aku belum pergi ke ladangnya. Ayahku bertanya: “Dari mana saja kamu? Bukankah aku sudah berkata kepadamu?” Maka aku berkata: “Wahai ayahku, aku melewati sekelompok orang yang disebut Nasrani, lalu salat mereka dan doa mereka membuatku kagum, maka akupun duduk untuk melihat apa yang mereka lakukan.” Ayaku berkata: “Wahai anakku, agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik dari agama mereka.” Aku berkata: “Tidak, demi Allah, agama kita itu tidak lebih baik dari agama mereka, mereka kaum yang menyembah Allah, berdoa dan salat untuk-Nya, sedangkan kita menyembah api yang kita nyalakan dengan tangan kita sendiri yang mana jika kita tinggalkan pastilah ia mati.” Maka ayahku pun mengancamku, dan meletakkan besi di kakiku serta menahanku di sebuah rumah miliknya. Lalu aku pun mengutus seseorang kepada orang-orang Nasrani itu (mereka pun mendatangiku) dan aku bertanya kepada mereka: “Di mana aku bisa mendapati agama yang aku lihat kalian memeluknya itu?” Mereka berkata: “Di Syam.” Aku berkata: “Jika datang sekelompok orang dari sana maka beritahukanlah aku.” Mereka berkata: “Kami akan lakukan.” Lalu ketika datang kepada mereka sekelompok para pedagang (dari Syam) itu mereka memberitahuku, dan mengutus seseorang kepadaku dan mengatakan: “Sesungguhnya telah datang kepada kami beberapa pedagang kami.” Lalu akupun mengutus orang kepada mereka dan berkata: “Jika mereka telah menyelesaikan keperluan mereka dan hendak pergi (dari negeri ini) maka beritahukanlah kepadaku.” Ketika mereka (para pedagang itu) telah menyelesaikan keperluan mereka dan hendak pergi, orang-orang Nasrani itu mengirim orang untuk memberitahuku tentang itu. lalu akupun meletakkan besi yang di kakiku dan aku menyusul mereka, lalu pergi bersama mereka sehingga aku tiba di Syam. Ketika aku sampai di sana, aku berkata kepada mereka: “Siapakah orang yang paling utama dalam agama kalian ini?” Mereka berkata: “Uskup, pemimpin gereja.” Lalu akupun mendatanginya dan berkata kepadanya: “Aku ingin sekali tinggal bersamamu di gerejamu dan menyembah Allah bersamamu di sini, dan mempelajari kebaikan darimu.” Ia berkata: “Jika begitu marilah engkau bersamaku.” Ia (Salman) berkata: “Aku pun (tinggal) bersamanya.” Dan ternyata ia adalah seorang lelaki yang buruk, ia menyuruh para pengikutnya bersedekah dan menganjurkan mereka, setelah terkumpul ia menimbunnya. Maka dari itu aku pun sangat membencinya karena yang aku lihat itu dari keadaannya. Lalu tidak lama kemudian ia mati. Ketika mereka datang untuk menguburkannya, aku berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Uskup ini seorang yang buruk. Ia menyuruh kalian untuk bersedekah dan menganjurkannya, lalu setelah terkumpul ia menimbunnya dan tidak memberikanya kepada orang miskin.” Mereka berkata: “Apa buktinya?” Aku berkata: “Aku akan mengeluarkan harta yang ia pendam itu untuk kalian.” Mereka berkata: “Silakan.” Lalu aku pun mengeluarkan tujuh gentong berisi emas. Ketika mereka melihat hal itu, mereka berkata: “Demi Allah, ia tidak akan dikubur selamanya.” Lalu mereka pun menyalibnya di sebuah kayu dan melemparinya dengan batu. Kemudian mereka mengangkat seorang yang lain untuk menggantikannya. Demi Allah tidak pernah aku melihat seorang yang lebih rajin dan giat salatnya. Lebih zuhud kepada dunia dan lebih rajin beribadah siang dan malam melebihi orang ini. Dan aku tidak pernah mencintai seseorang (ahli ibadah) yang seperti dia seperti kecintaanku kepadanya. Maka aku pun senantiasa bersamanya hingga ia dijemput oleh kematian. Maka aku pun mengatakan kepadanya: “Wahai Fulan, telah (hampir) datang kepadamu apa yang kau lihat dari sisi Allah (yakni kematian), dan aku – demi Allah – tidak pernah mencintai seseorang melebihi kecintaanku kepadamu maka apa yang kau akan perintahkan kepadaku dan kepada siapa engkau mewasiatkanku?” Ia berkata kepadaku: “Wahai anakku, aku tidak mengetahui seseorang (yang aku wasiatkan kepadamu) kecuali rahin yang berada di Maushil maka datangilah ia maka engkau akan mendapati dia seperti keadaanku.” Ketika ia telah meninggal dunia maka aku pun pergi ke Maushil, aku datangi rahib / uskup di sana dan aku dapati ia seperti keadaan rahib yang baru meninggal tadi, yakni ia bersungguh-sungguh dalam beribadah dan zuhud kepada dunia. Aku pun berkata kepadanya: “Sesungguhnya si Fulan telah mewasiatkan kepadaku untuk mendatangimu dan tinggal bersamamu.” Ia berkata: “Tinggallah engkau bersamaku, wahai anakku.” Aku pun tinggal bersamanya seperti yang diwasiatkan hingga datang kematian menjemputnya.” Aku pun berkata kepadanya: “Sesungguhnya si Fulan mewasiatkan aku untuk pergi kepadamu, dan sekarang telah (hampir) datang perintah Allah seperti yang engkau lihat (yakni kematian), maka kepada siapakah engkau mewasiatkanku?” Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak mengetahui seseorang pun, wahai anakku, kecuali rahib di Nashiibiin (suatu wilayah di Iraq), dia berada pada ajaran seperti yang kita lakukan.” Ketika kami menguburkannya, akupun pergi kepada rahib yang lain (yang telah ditunjukkan itu). Aku pun berkata kepadanya: “Wahai Fulan, sesungguhnya si Fulan telah mewasiatkanku aku kepada Fulan, dan Si Fulan kemudian mewasiatkanku kepadamu.” Maka ia berkata kepadaku: “Tinggallah (di sisiku) wahai anakku.” Aku pun tinggal di sisinya seperti keadaanku sebelum ini hingga maut menjemputnya. Aku berkata kepadanya: “Sesungguhnya si Fulan mewasiatkan aku kepada Fulan, lalu si Fulan mewasiatkanku untuk pergi kepada Fulan, lalu si Fulan mewasiatkanku untuk pergi kepadamu, maka kepada siapakah engkau mewasiatkanku?” Ia berkata: “Wahai anakku, aku tidak mengetahui seseorang pun yang berada pada ajaran seperti apa yang ada pada kita, wahai anakku, kecuali rahib di ‘Amuuriyyah, salah satu negeri di Syam, maka engkau akan mendapatinya berada pada ajaran seperti yang ada pada kita.” Setelah aku menguburkannya aku keluar hingga aku mendatangi rahib yang di ‘Amuuriyyah itu, maka aku dapati ia seperti keadaan mereka (para rahib yang telah meninggal itu). Aku pun tinggal di sisinya dan aku bekerja sehigga aku memiliki seekor kambing dan beberapa ekor sapi, kemudian hadirlah waktu kematian Rahib itu. Aku berkata kepadanya: “Wahai Fulan, sesungguhnya si Fulan mewasiatkan aku kepada Fulan, lalu si Fulan mewasiatkanku untuk pergi kepada Fulan, lalu si Fulan mewasiatkanku untuk pergi kepada Fulan, lalu si Fulan itu mewasiatkanku untuk pergi kepadamu, dan sudah hampir datang kepadamu apa yang engkau lihat dari perintah Allah (yakni ajal) maka kepada siapakah engkau mewasiatkanku?” Ia berkata: “Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui ada seorang yang tersisa daripada orang-orang yang berpegang kepada sesuatu seperti yang kita pegang ini. Namun telah datang padamu masa diutusnya seorang nabi dari tanah haram, tempat hijrahnya di negeri antara dua bukit, suatu yang negeri yang subur dan memiliki banyak pepeohonan kurma. Sesungguhnya pada dirinya ada tanda-tanda yang tidak tersembunyi: di antara dua pundaknya ada cap (segel) kenabian, ia memakan hadiah dan tidak mau memakan sedekah. Jika engkau bisa pergi ke negeri itu maka lakukanlah sebab telah datang padamu masanya. Setelah aku menguburkannya aku pun tinggal beberapa lama lagi di tempat itu hingga lewat beberapa orang pedagang arab dari kabilah Kalb. Aku pun berkata kepada mereka: “Bawalah aku bersama kalian sehingga aku memasuki tanah Arab, aku akan memberikan kepada kalian kambingku dan beberapa ekor sapiku.” Mereka berkata: “Ya.” Aku pun memberikan hewan-hewanku itu kepada mereka dan mereka pun membawaku. Hingga sampai di Waadil Quroo mereka menzalimi aku dan menjualku sebagai budak kepada seorang Yahudi yang tinggal di Waadil Quroo. Sungguh demi Allah aku telah melihat pohon kurma dan aku sangat berharap bahwa inilah negeri yang disifatkan oleh si Rahib kawanku itu. Hingga suatu kali datanglah seorang Yahudi dari bani Quroyzhoh yakni dari kalangan Yahudi yang tinggal di Waadil Quroo, lalu ia pun membeliku dari majikanku yang pertama. Lalu ia keluar membawaku hingga sampailah aku di kota Madinah. Dami Allah tidak lah kota Madinah ini aku lihat kecuali aku mengenali sifatnya. Aku pun tinggal sebagai budak bersama majikanku itu, dan Allah pun mengutus Rasul-Nya – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – di Makkah, dan aku tidak mendengar kabar sedikitpun tentangnya sebab aku hanyalah sebagai budak. Hingga datang Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – ke Quba’ sedangkan aku tengah bekerja untuk majikanku di kebun kurmanya. Demi Allah, majikanku itu ada di kebun tersebut lalu tiba-tiba datang kepadanya sepupunya lalu berkata: “Wahai Fulan, semoga Allah membinasakan bani Qoylah (penduduk Madinah), Demi Allah mereka sungguh berkumpul di Quba’ mengelilingi seorang lelaki yang datang dari Makkah yang mengira dirinya seorang nabi.” Demi Allah sungguh aku mendengar berita itu, lalu aku ditimpa kegemetaran sehingga aku mengira bahwa diri akan jatuh menimpa majikanku, aku turun dan berkata: “Berita apa tadi? Apa yang terjadi?” Lalu majikanku mengangkat tangannya dan menamparku dengan keras. Ia berkata: “Apa urusanmu dengan kabar ini? Pergilah kembali kepada pekerjaanmu.” Aku berkata: “Tidak apa-apa, hanyasaja aku mendengar sebuah kabar dan aku ingin mengetahuinya.” Lalu setelah itu aku pun keluar dan bertanya kepada orang-orang, lalu aku bertemu dengan seorang wanita dari penduduk negeri asalku, aku bertanya kepadanya tentang kabar itu, dan ternyata ia dan keluarganya telah masuk Islam, maka ia pun menunjukkan aku kepada Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau. Katika petang hari aku memiliki sedikit makanan maka aku pun membawa makanan itu dan pergi menuju Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – sedang beliau ketika itu berada di Quba’, aku berkata: “Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku bahwa engkau seorang lelaki yang salih dan bersamamu ada kawan-kawanmu dan kalian adalah orang-orang yang baru datang dari jauh, dan aku memiliki sesuatu yang aku sedekahkan, sedangkan aku melihat bahwa kalian adalah orang yang paling pantas menerimanya di antara seluruh penduduk negeri ini. Inilah yang aku sedekahkan, maka makanlah darinya.” Lalu Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – menahan tangannya dan berkata kepada para sahabatnya: “Makanlah kalian.” Sedangkan beliau tidak memakannya. Aku pun berkata dalam diriku: “Ini adalah salah satu sifat yang diberitakan oleh kawanku (si Rahib).” (yakni beliau tidak menerima sedekah). Kemudian aku pun pulang dan Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – pindah ke pusat kota Madinah, lalu aku pun mengumpulkan sesuatu yang aku punya dan aku datang kepada beliau. Aku berkata: “Aku melihatmu tidak memakan sedekah, maka ini adalah hadiah dan pemuliaan, bukan sedekah.” Maka Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – memakannya dan para sahabatpun ikut memakannya. Aku berkata (dalam hatiku): “Ini sudah dua sifat.” (yakni beliau tidak menerima sedekah namun menerima hadiah). Kemudian aku mendatangi Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – sedang beliau tengah mengantarkan jenazah dan beliau memakai dua potong pakaian luar (jubah dan serban yang diselempangkan di pundaknya) beliau ketika itu berada di tengah para sahabatnya. Aku pun mengitari beliau untuk melihat cap (segel) kenabian di punggungnya, ketika Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – melihatku berputar beliau mengetahui bahwa aku sedang memastikan sesuatu yang disifatkan kepadaku, maka beliau menyingkirkan serban (selendangnya) dari punggungnya, sehingga aku pun melihat kepada segel kenabian yang disifati kepadaku oleh kawanku (si Rahib itu) maka akupun segera memeluk dan menciuminya dan aku menangis. Beliau bersabda: @“Berpindahlah engkau wahai Salman demikian (yakni ke depanku).”# Lalu aku pun berpindah posisi dan duduk di hadapan beliau. Beliau suka agar para sahabatnya mendengar ceritaku, maka aku pun menceritakannya hingga selesai, lalu beliau bersabda (kepadaku): @“Bebaskanlah dirimu Wahai Salman (dari perbudakan)”# (yakni dengan cara menebus diri dengan mencicil) Maka aku pun meminta kepada majikanku kemerdekaan dengan syarat aku menanam untuknya 300 pohon kurma dan 40 uuqiyah (1 uuqiyah = 119 gram, maka 40 uuqiyah = 4760 gram) uang emas. Lalu para sahabat Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – menolongku (untuk pembebasanku) dengan memberikan bibit kurma, ada yang memberi 30, ada yang 20, dan ada yang memberi 10, masing-masing menurut kemampuannya. Lalu Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – bersabda: @“Buatlah lubang untuk bibit-bibit kurma itu, jika telah selesai beritahukan aku, sehingga akulah yang akan meletakkan bibit-bibit kurma itu dengan tanganku.”# Lalu aku pun membuat lubang-lubang dengan dibantu oleh para sahabatku hingga selesai. Setelah itu datanglah Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – maka kami membawakan untuk beliau bibit-bibit kurma itu dan beliau yang meletakkannya dengan tangannya dilubangnya dan meratakan tahan atasnya. Maka demi Allah Yang telah mengutus beliau dengan kebenaran, tidak mati satupun dari bibit-bibit kurma itu. dan tersisalah tanggunganku (kepada majikanku) berupa uang (emas). Lalu tiba-tiba datang seorang lelaki dari suatu tambang dengan membawa emas sebesar telur merpati. Maka Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – bersabda: @“Manakah orang Persia muslim yang hendak menebus dirinya (dari perbudakan) tadi?”# maka aku pun dipanggil (untuk menghadap) kepada beliau. Lalu beliau bersabda: @“Ambillah ini wahai Salman dan tunaikanlah apa yang menjadi tanggunganmu.”# Lalu akupun berkata: “Wahai Rasululloh bagaimana bisa ini mencukupi atas tanggunganku?” Beliau bersabda: @“Sesungguhnya Allah akan menunaikannya dengan itu untukmu.”# Maka demi Dzat Yang mana jiwaku berada di genggaman-Nya aku menimbang dari emas tadi untuk majikanku 40 uuqiyah maka aku bayarkan itu kepada majikanku dan ternyata masih tersisa di sisiku seberat ketika (emas itu) diberikan tadi kepadaku (seolah-olah emas itu tidak berkurang sama sekali).” Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dalam sirohnya, dan Ahmad juga meriwayatkan melalui jaurnya (yakni Ibnu Ishaq), juga oleh Ibn Sa’d dalam Thobaqoot-nya, juga Al-Bayhaqiy, Abu Nu’aim keduanya dalam kitab Dalaa-il-nya masing-masing, juga oleh Al-Khothiib dalam Taarikh-nya, juga oleh Ath-Thobroniy dalam (Mu’jam) Al-Kabiir-nya dan sanadnya sahih menurut syarat Muslim, adapun Ibnu Ishaq menjelaskan dengan lafazh tachdiits (telah memberitakan si Fulan kepadaku) oleh karenanya Ibnu Katsiir menguatkannya dalam Siroh-nya, dan hadits ini memiliki beberapa jalur dan periwayatan yang mana dengan banyakanya jalu serta periwayatn itu maka hadts ini menjadi sahih, adapun An-Nuur telah mengetengahkan hadits ini dalam Al-Majma’-nya dengann riwayat dari Ahmad, dan Ath-Thobroniy dalam (Al-Mu’jam) Al-Kabiir-nya, dan ia (An-Nuur) berkata: “Sanad riwayat yang pertama menurut Ahmad dan Ath-Thobrooniy perawinya adalah para perawi hadits sahih, selain ‘Amr bin Abu Qurroh Al-Kindiy maaka ia tsiqoh (dapat dipercaya), kemudian ia menyebutkan hadits ini secara ringkas dengan riwayat Ahmad dan Al-Bazzaar, dan ia berkata: “Para perawinya adalah para perawi hadits sahih.” Faidah-faidah Yang Dapat Diambil Dari Hadits-hadits Di Atas Dalam kisah-kisah tersebut di atas ada tiga kisah, yaitu: Kisah seorang Yahudi dari Bani Abdul-asyhal, kisah Zaiid bin Su’nah, dan kisah Salman Al-Faarisiy. Adapun faidah-faidah yang dapat diambil kami ringkaskan seperti di bawah ini: - di antaranya adalah bahwa Yahudi dan Nasrani telah memiliki informasi (berita atau pengetahuan) tentang Nabi – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – khususnya para cerdik pandai di antara mereka serta para rahib mereka, menurut apa yang mereka ketahui tentang sifat-sifat Nabi – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – serta kabar gembira (yang mereka sampaikan), serta perintah untuk beriman kepada beliau dan mengikuti beliau, sebagaimana terdapat dalam Taurat dan Injil mereka, ini semua suatu perkara yang nyata, segala puji bagi Allah Yang Maha Luhur. - Di antaranya adalah bahwasanya Yahudi sejak mereka pertama kali ada mereka selalu mengingkari kebenaran dan menyalahinya meskipun mereka mengetahui beliau, itu karena keangkuhan dan iri hati dari mereka. Makadalammkisah di atas seorang Yahudi di kalangan Bani Abdul-asyhal meskipun ia beriman kepada Allah dan hari akhir dan ia mengetahui keluarnya (diutusnya) Nabi – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – dari arah Makkah yang mana ia telah mengathauinya dari Taurat, namun ternyata ia kafir terhadapa beliau dan mengingkari beliau ketikaa beliau diutus dan muncul, maka Allah menyesatkannya atas ilmunya itu. hal ini sangat berbeda dengan Zaid bin Su’nah, seorang Yahudi yang lain, yang mengumumkan keislamannya dan keimanannya kepada Nabi – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – hanya dengan pembuktiannya dan keberadaan sifat-sifat yang ia kenali pada diri Nabi – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – yang mana ia telah mengenali sifat-sifat itu dari Taurat. Maka ia termasuk orang yang dingini baik oleh Allah dan Allah memberi pahala dua kali lipat baginya seperti Abdulloh bin Sallaam – semoga Allah Yang Maha Luhur meridhoinya – dan yang lainnya dari kalangan Yahudi yang beriman kepada beliau. - Dalam kisah Salman – semoga Allah Yang Maha Luhur meridhoinya – bahwasanya orang yang sudah ditentukan akan bahagia (di sisi Allah) maka ia tidak akan dibahayakan oleh kesalahan (yang telah ia buat). Sungguh Salma telah menggeluti (penyembahan) api yang ia sembah bersama ayahnya sebagai kepala kaum Majusiy, lalu ketika Allah menginginkan kebaikan terhadapnya karena ketentuan yang azali, maka Allah menyelamatkannya dari agama Majusi kepada Agama Allah yang benar. - Bahwasanya agama Nasrani telah tersebar sebelum diutusnya Nabi – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – sampai ke negeri Persia dan kita tidak tahu bagaimana tatacara beragama mereka, yang jelas mereka tersesat dari agama Isa – semoga salam tetap atasnya – dengan dalil atau bukti apa yang diperbuat oleh para pendeta mereka. - Bahwasanya agama Nasrani pusatnya adalah di Syam, sedangkan Syam meliputi: Palestina, Yordania, Suria, dan Libanon. Maka negeri-negeri ini semua disebut sebagai Syam dan negeri-negeri tersebut dengan kota-kotanya dan desa-desanya masih menjadi tempat bagi agama Nasrani hingga sekarang, namun mereka sesat dan menyesatkan. - Bahwasanya agama Isa yang benar telah menjadi terasing dengan bukti para pendeta yang disinggahi oleh Salman, mereka semua orang-orang yang terasingkan, dan yang terakhir ditemuinya adalah penutup mereka (yang berpegang padaa agama Isa yang benar). Oleh karenanya Salma diwasiatkan pergi ke negeri Arab yaang mana disana akan diutus seorang nabi dalam waktu dekat. Seandainya masih ada seseorang yang dapat dijadikan panutan dari kalangan Nasrani pada saat itu pastilah pendeta itu akan menunjukkan Salman kepadanya, akan tetapi ia berkata: “Demi Allah saya tidak mengetahui bahwa masih tersisa seorang pun yang berada dalam ajaran seperti yang kita jalani ini yang dapat aku suruh engkau untuk menemuinya.” - Pengetahuan paraa Uskup tersebut tentang sifat-sifat Nabi – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – seperti bahwa beliau diutus dari Makkah dan berhijrah ke Madinah, dan bahwa antara kedua pundak beliau terdapat stempel (capa tau segel) tanda kenabian, dan bahwa beliau memakan hadiah dan tidak memakan sedekah, dan juga mereka mengetahi waktu keluarnya beliau. Semuanya itu mereka ketahui dari Injil yang berbicara tentang beliau – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – dan memberi kabar gembira tentang beliau. - Hidayah atau petunjuk yang diperoleh Salman untuk mencari agama yang benar, dan hijrahnya ia menjauhi kedua orang tuanya dan keluarganya serta negerinya ke tempat yang di sana didapati agama Allah, serta ia mengarungi perjalanan yang panjang dari negeri Persia ke Syam yang mana itu merupakan jarak yang sangat jauh yang membutuhkan bekal serta waktu yang sangat banyak, sehingga ia berhasil menempuhnya dan mendapatkan apa yang ia cari. - Kecerdasan beliau dengan bertanya tentang orang yang paling utama di antara pemeluk agama Nasrani agar ia dapat betul-betul mengambil gama tersebut langsung dari para ulamanya yang paling utama. - Kesabaran Salman dalam melayani para pendeta itu satu demi satu sehingga meninggal yang terakhir dari mereka. - Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung memudahkan jalan baginya untuk masuk ke tanah Arab sehingga ia sampai pada kota Madinah yang aman di sana ia akan bahagian dengan bertemu dengan Kekasih yang terpilih (Nabi Muhammad) – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – - Dan yang termasuk nilai paling penting adalah bantuan Nabi – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – serta para sahabat beliau kepada Salman dan pertolongan beliau dalam membebaskannya dari perbudakan, dan untuk memperoleh kemerdekaannya serta penyelematan beliau terhadapnya daripada penyembahan kepada selain Allah Yang Maha Tinggi. Terutama lagi Salman adalah budak dari seorang Yahudi. Olehkarenanya maka appa yang telag diperbuat oleh Rasululloh – semoga Allah Yang Maha Tinggi tetap melimpahkan salawat dan salam atas beliau dan keluarga beliau – dan para sahabat beliau terhadap Salman patutlah untuk menjadi contoh bagi kaum muslimin dalam setiap masa. Sebab Islam sangat menyuruh hal itu dan menganjurkannya serta mendorong untuk melakukannya. Semoga Allah menunjuki kita dan seluruh kaum muslimin kepada apa yang diridhoi-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar